jump to navigation

Kita selama ini menjadi guru fisika atau guru matematika?? September 17, 2008

Posted by wakhidkurniawan in Materi & Lembar Kerja.
trackback

Coba saudara renungkan! Apa yang bisa diperbuat oleh Wakhid Sukriting. Kok bisa-bisanya ditunjuk menjadi seksi Peningkatan Mutu IPA. Menurut pendapat Wakhid Sukriting di dalam berbagai kesempatan :

1. Mutu IPA di Banyumas meningkat bila Silabus dan RPP yang melandasi KBM adalah silabus dan RPP yang bermutu (baca : bukan bajakan).

2. Guru tidak membuat silabus dan RPP bukan disebabkan karena guru tidak bisa membuat, tetapi lebih karena malas atau tidak sempat saja.

3.  Selama ini tidak pernah muncul silabus dan RPP model lain,  dikarenakan guru tidak pernah melihat “alternatif” lain bagaimana materi dan metode suatu pokok bahasan disampaikan, selain yang sudah disampaikan selama ini.

4. Maka tujuan Seksi Peningkatan Mutu IPA meluncurkan blog ini salah satunya agar para guru bisa berbagi materi dan metode “alternatif” tersebut.

Begitu  … !

———————————————————————————

Materi Fisika konon katanya dapat disampaikan dengan dua pendekatan. Pertama, pendekatan konsep. Kedua, pendekatan proses.

Berani taruhan, 99% guru di Indonesia memilih pendekatan yang paling praktis, yaitu pendekatan konsep. Konsep disampaikan terlebih dahulu, disusul rumus yang menyertai, contoh soal, kemudian soal latihan. Pola yang demikian seakan mentradisi sudah di dalam KBM kita. Kalau dipkir-pikir, apa bedanya kita dengan guru matematika? Sedangkan setahu saya, malahan guru matematika seharusnya mengajar dengan memberikan banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan proses memang melelahkan dan butuh waktu lama dalam pelaksanaannya. Harus banyak percobaan. Harus banyak mencari data. Dan yang paling sulit adalah membimbing siswa bagaimana membuat kesimpulan data yang diperoleh. Sering hal ini menuntut kemampuan matematis yang tinggi dari para siswa.

Terlepas dari semua itu, di era KTSP guru diberikan kebebasan memilih pendekatan yang disukai. Namun demikian, seorang guru yang bijak, guru yang berharap bahwa apa yang disampaikan bermakna bagi siswanya kelak, tentu saja akan memilih pendekatan yang bermakna pula.

Pernahkah saudara merenung :”Apa gunanya materi yang kita sampaikan di dalam hidup siswa kelak, toh pada akhirnya kelak siswa menjadi juragan pete, tukang parkir, atau penggali kubur”.

Jika kita renungkan, justru yang bermakna bagi hidup siswa kelak adalah “karakter” yang terbentuk dari “proses” IPA yang dialami siswa selama KBM.

Sebagai bahan pembanding, klik materi Kirchhoff Volt Law di sisi sebelah kanan. Akan terlihat bagaimana materi tersebut “membangun pemahaman” dari pemahaman sebelumnya yang sudah dimiliki siswa. Bagaimana materi tersebut mengasah daya nalar siswa

Silakan ditanggapi dengan mengeklik link komentar di bawah ini !

Komentar»

1. ISPI BANYUMAS - Oktober 24, 2008

Mohon berkenan menginformasikan kegiatan SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN

Makasih

2. Sumber Media Pembelajaran - Desember 24, 2008

Silakan mampir blog kami, tersedia sumber media animasi yang menarik, GRATIS.

3. mencari ilmu apa saja - Maret 28, 2009

klu guruku dulu sih kayaknya fisika banget deh,ntu tuh pak Sutikno smpn 2 kdng bntng.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: